KELOMPOK 6
Gusti Alfahmi A.
Imam Febi Satrio
Julius Leonardo
Nabila Nurfadliana
Syarif Irvan Fahreza A

Digital Cinema merujuk pada penggunaan teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak. Sebuah film dapat didistribusikan lewat perangkat keras, piringan optik atau satelit serta ditayangkan menggunakan proyektor digital alih-alih proyektor film konvensional. Sinema digital berbeda dari HDTV atau televisi high definition. Sinema digital tidak bergantung pada penggunaan televisi atau standar HDTV, aspek rasio atau peringkat bingkai. Proyektor digital yang memiliki resolusi 2K mulai disebarkan pada tahun 2005, dan sejak tahun 2006 jangkauannya telah diakselerasi.
Digital Cinema dapat dibuat dengan media video yang untuk penayangannya dilakukan transfer dari format 35 milimeter (mm) ke format high definition (HD). Proses transfer ke format HD melalui proses cetak yang disebut dengan proses blow up. Setelah menjadi format HD, penayangan film dilakukan dari satu tempat saja, dan dioperasikan ke bioskop lain dengan menggunakan satelit, sehingga tidak perlu dilakukan salinan film. Contohnya, dari satu bioskop di Jakarta, film dapat dioperasikan atau diputar ke bioskop-bioskop di daerah melalui satelit.
SEJARAH

Pada tanggal 23 Oktober 1998, digital
light processing (DLP) teknologi proyektor ditunjukkan publik untuk
pertama kalinya dengan merilis The Last Broadcast, film pertama
feature-length, di-shot, diedit dan didistribusikan secara digital.
Pada tanggal 18 Juni 1999, DLP Cinema
teknologi proyektor Texas Instrument ditunjukkan publik pada empat layar
di Amerika Utara (Los Angeles dan New York) untuk rilis Lucasfilm Star
Wars: Episode I:. The Phantom Menace. Bioskop dengan proyektor digital
yang memproyeksikan cuplikan langsung dari komputer Pixar Animation.
Pada tanggal 19 Januari 2000, Society of Motion Picture dan Television
Engineers, di Amerika Utara, yang diprakarsai kelompok standar pertama
yang di dedikasikan untuk mengembangkan Digital Cinema.
Perkembangan pada tahun selanjutnya
adalah sangat pesat. Semua theater di dunia berbondong-bondong menyuplai
layar digital dan proyektor untuk di pasang di masing-masing theater.
Ini mencerminkan bahwa teknologi ini diterima dengan sangat baik di
khalayak luas.
Sampai 31 Maret 2015, 38719 layar (dari
total 39.789 layar) di Amerika Serikat telah dikonversi ke digital
(15.643 dari yang 3D mampu), 3007 layar di Kanada telah dikonversi
(1.382 di antaranya adalah 3D), dan 93.147 layar internasional telah
dikonversi (59.350 di antaranya adalah 3D). Jumlah yang beratus-ratus
kali lipat dibandingkan dengan jumlah awal saat dikenalkan pertama kali.
Dapat dilihat, respon dan keinginan masyarakat sangat kuat akan Digital
Cinema sampai detik ini.
Rekaman Digital

Pasca Produksi Digital

Digital Mastering

Proyeksi Digital

SUMBER :